AI dan Pendidikan Indonesia: Antara Harapan Besar, Kecemasan Kolektif, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan
Seminar 28 November 2025
MELINTAS.ID - Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi kecerdasan buatan (AI) berkembang dengan sangat cepat sehingga banyak orang mulai bertanya: Apakah pendidikan kita siap menya...
AI dan Pendidikan Indonesia: Antara Harapan Besar, Kecemasan Kolektif, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan
MELINTAS.ID - Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi kecerdasan buatan (AI) berkembang dengan sangat cepat sehingga banyak orang mulai bertanya: Apakah pendidikan kita siap menyambut perubahan ini? Atau justru kita sedang berjalan ke arah yang membuat guru, siswa, bahkan nilai-nilai kemanusiaan pelan-pelan terpinggirkan? AI dan Pendidikan Indonesia: Antara Harapan Besar, Kecemasan Kolektif, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan
Kekhawatiran itu wajar. Kita hidup pada masa ketika mesin mampu menulis, menganalisis, memberi rekomendasi pembelajaran, bahkan mengambil keputusan berbasis data yang jauh lebih cepat dibanding manusia. Namun di tengah hiruk-pikuk perkembangan teknologi tersebut, pertanyaan paling penting justru kembali pada hal yang paling mendasar:
- A. Bagaimana memastikan AI menjadi alat yang memanusiakan pendidikan—bukan mereduksi peran guru, menghilangkan interaksi sosial, atau mempersempit ruang kreativitas manusia?
- B. Dapatkah AI benar-benar memahami kebutuhan belajar individu sehingga setiap siswa merasa dihargai sebagai pribadi dengan kemampuan dan ritme belajar yang unik?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar teori. Mereka adalah refleksi besar yang sedang diperjuangkan oleh guru, pemerhati pendidikan, dan para inovator yang bekerja membangun masa depan sekolah Indonesia.
Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Pengetahuan—Ia Adalah Sentuhan Manusia
Teknologi boleh canggih, tetapi sampai hari ini belum ada algoritma yang mampu menggantikan sentuhan kehangatan seorang guru ketika menyemangati murid yang hampir menyerah. Tidak ada mesin yang bisa memaknai sorot mata seorang siswa yang diam, namun menyimpan luka batin. Tidak ada AI yang benar-benar memahami pergumulan seorang anak yang belajar sambil membantu orang tua bekerja.
Inilah yang harus diingat: AI dapat menjadi alat yang membantu, tetapi guru tetap menjadi jiwa yang menghidupkan pembelajaran.
Ketika sekolah memanfaatkan AI untuk mempersonalisasi pembelajaran, itu adalah kabar baik. Namun ketika AI dijadikan “pengganti guru” atau alasan untuk mengurangi hubungan antarmanusia, saat itulah pendidikan kehilangan rohnya.
Mengapa Karya Ilmiah dan Jurnal Tidak Boleh Mengandalkan AI Secara Penuh?
Di tengah kemudahan teknologi, banyak mahasiswa dan peneliti muda tergoda menggunakan AI secara penuh untuk menulis jurnal, paper, atau laporan ilmiah.
Padahal, karya ilmiah adalah perjalanan intelektual, bukan sekadar rangkaian paragraf.
Selain itu, hasil tulisan AI rentan terdeteksi plagiarisme, karena banyak sistem mengecapnya sebagai AI-generated content yang dianggap tidak orisinal. Lebih parah lagi, AI kerap menciptakan referensi palsu, manipulasi data, atau kutipan yang tidak pernah ada.
Ilmu bukan hanya tentang hasil—melainkan tentang proses. Dan proses itu membutuhkan manusia.
Teknologi Penguat Suara Siswa: Ketika Murid Akhirnya Didengarkan
Dalam konteks pembelajaran modern, muncul pertanyaan baru yang tidak kalah penting:
Fitur apa saja yang paling efektif dari voice amplification tools untuk mengumpulkan aspirasi, ide, dan umpan balik siswa secara real-time?