Sarasehan 77 Organisasi Pendidikan: Merajut Keakraban, Menyatukan Gagasan
Umum 28 November 2025
Kisah Wijaya Kusumah Sarasehan 77 Organisasi Pendidikan: Merajut Keakraban, Menyatukan Gagasan Di tengah hiruk-pikuk agenda pendidikan nasional yang semakin kompleks, hadir...
Sarasehan 77 Organisasi Pendidikan: Merajut Keakraban, Menyatukan Gagasan
Kisah Wijaya Kusumah
Sarasehan 77 Organisasi Pendidikan: Merajut Keakraban, Menyatukan Gagasan
Di tengah hiruk-pikuk agenda pendidikan nasional yang semakin kompleks, hadir satu momen yang menghadirkan harapan: Sarasehan 77 Organisasi Pendidikan yang diselenggarakan di Menara Peninsula Hotel, Jakarta. Acara ini berlangsung hangat, penuh keakraban, dan sarat gagasan, tepatnya di Aula Lantai 1 hotel yang nyaman dan representatif untuk berdiskusi secara bebas namun tetap berkelas.
Sarasehan dimulai selepas salat Isya, sekitar pukul 19.00 WIB, namun para peserta sudah berdatangan sejak sore hari. Mereka berasal dari berbagai organisasi profesi guru, komunitas pendidikan, lembaga pelatihan, asosiasi bidang studi, hingga forum-forum yang selama ini aktif menggerakkan perubahan di dunia pendidikan. Jumlahnya tak tanggung-tanggung—77 organisasi yang punya karakter, fokus perjuangan, dan latar belakang berbeda-beda.
Namun malam itu, perbedaan bukan untuk dipertentangkan. Justru menjadi kekuatan.
Suasana Penuh Keakraban Sejak Awal
Begitu memasuki aula, aroma kopi dan teh hangat menyambut tamu yang berdatangan. Tidak ada jarak, tidak ada rasa sungkan. Para pimpinan dan perwakilan organisasi saling menyalami, berbincang, tertawa, dan sesekali berfoto bersama. Keakraban yang terbangun terasa tulus, bukan sekadar basa-basi.
Ada yang datang dari organisasi guru mapel, ada yang mewakili asosiasi kepala sekolah dan pengawas, ada pula komunitas digital, literasi, vokasi, dan teknologi pembelajaran. Meski latar belakangnya beragam, semua datang dengan semangat yang sama: bersama memajukan pendidikan Indonesia.
Sarasehan ini bukan seminar formal dengan protokol ketat. Formatnya sengaja dibuat cair, lebih mendekati “musyawarah keluarga besar pendidikan” agar semua peserta bebas berbicara, menyampaikan pandangan, berbagi pengalaman, dan memberi masukan.
Mengapa Sarasehan Ini Penting?

Di tengah dinamika kebijakan pendidikan yang terus berubah, organisasi pendidikan sering berjalan sendiri-sendiri. Banyak program bagus yang tidak diketahui kelompok lain. Banyak upaya mulia yang seharusnya bisa dikerjakan bersama, tetapi terhambat karena minimnya komunikasi.
Sarasehan ini menjadi ruang untuk menyatukan puzzle besar itu.
Ketika 77 organisasi berkumpul dalam satu ruangan, sesungguhnya ada pesan kuat yang ingin disampaikan: pendidikan tidak bisa diperjuangkan oleh satu kelompok saja.
Kehadiran berbagai pihak menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi kolaborasi yang luar biasa jika koordinasi diperkuat dan komunikasi dibuka seluas-luasnya.
Saran dan Masukan dari Para Peserta
Diskusi berjalan dinamis. Hampir setiap perwakilan organisasi mendapat kesempatan berbicara. Berikut beberapa gagasan besar yang muncul dari forum tersebut:
1. Perlunya Kolaborasi Program Berkelanjutan
Banyak organisasi mengusulkan agenda bersama seperti:
pelatihan guru lintas organisasi,
seminar nasional rutin,
aksi sosial pendidikan,
publikasi bersama,
hingga penyusunan rekomendasi kebijakan yang lebih solid.
Mereka sadar bahwa ketika program dilakukan bersama, jangkauan dan dampaknya akan jauh lebih besar.
2. Penguatan Advokasi Pendidikan
Beberapa organisasi menyoroti isu penting seperti:
perlindungan guru,
dinamika organisasi profesi,
peningkatan kompetensi guru,
keadilan dalam kebijakan tunjangan,
serta pentingnya menyuarakan aspirasi guru dari daerah terpencil.
Sarasehan ini diharapkan menjadi awal terbentuknya forum advokasi yang lebih kuat, berbasis data dan pengalaman nyata di lapangan.
3. Inovasi Pembelajaran Berbasis Teknologi
Komunitas digital dan teknologi pendidikan mengusulkan kolaborasi dalam:
literasi digital,
pemanfaatan AI untuk pembelajaran,
coding untuk guru dan siswa,
serta penguatan budaya digital yang aman.
Mereka menegaskan bahwa guru harus memimpin transformasi digital, bukan tertinggal oleh arusnya.
4. Penguatan Karakter dan Budaya Literasi
Beberapa organisasi literasi mendorong agar sarasehan menghasilkan gerakan nasional membaca dan menulis berbasis komunitas. Bukan lagi slogan, tetapi aksi nyata yang dilakukan bersama.
5. Keterlibatan Pemerintah dan Pemangku Kepentingan
Saran juga muncul agar pemerintah pusat dan daerah lebih terbuka pada kolaborasi dengan organisasi pendidikan, bukan hanya sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai mitra sejajar dalam mengembangkan program pendidikan nasional.
Hadir sebagai Keluarga Besar, Pulang dengan Semangat Baru
Seiring bergulirnya waktu, suasana diskusi malah semakin hangat. Tidak ada gesekan, tidak ada persaingan, semua merasa berada dalam satu rumah: rumah perjuangan pendidikan Indonesia.
Inilah kekuatan sarasehan: menghadirkan suasana kekeluargaan yang membuat setiap peserta tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga membangun kedekatan emosional.
Ketika acara mendekati akhir, satu hal yang terasa sangat kuat adalah semangat kebersamaan. Para peserta menyadari bahwa perjuangan pendidikan akan jauh lebih ringan jika dilakukan bersama.
Ada rencana lanjutan untuk:
membentuk grup koordinasi antarorganisasi,
menyusun agenda bersama triwulan,
dan membuat peta jalan kolaborasi jangka panjang.
Sarasehan mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi energinya bisa bertahan bertahun-tahun jika tindak lanjutnya dilakukan dengan konsisten.
Penutup: Pendidikan Indonesia Membutuhkan Kebersamaan
Sarasehan 77 Organisasi Pendidikan di Menara Peninsula Hotel bukan sekadar pertemuan. Ia adalah simbol harapan baru—bahwa perubahan besar dimulai dari satu meja diskusi, satu ruangan musyawarah, dan satu niat baik untuk bekerja sama.
Di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, forum seperti ini sangat dibutuhkan. Ketika guru, pemerhati pendidikan, komunitas, dan organisasi saling membuka diri, maka lahirlah ruang kolaborasi yang produktif dan penuh gagasan segar.
Dan malam itu, di aula lantai 1 Menara Peninsula Hotel, kita melihat sendiri bagaimana keakraban bisa melahirkan kekuatan. Bagaimana kekeluargaan bisa menjadi modal dalam memperjuangkan masa depan pendidikan.
Semoga sarasehan ini menjadi titik awal perjalanan panjang bersama—perjalanan untuk menghadirkan pendidikan Indonesia yang lebih maju, lebih manusiawi, dan lebih berpihak pada peserta didik serta para pendidiknya.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com