Pengurus Atau Penguras PGRI?

Umum 19 December 2025

Pengurus atau Penguras PGRI? Refleksi untuk Menjaga Marwah Organisasi Guru Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) PGRI bukan sekadar organisasi profesi. Ia adalah rumah besar p...

Pengurus Atau Penguras PGRI?
Umum 19 December 2025 16:49 wijaya kusumah 133 views

Pengurus Atau Penguras PGRI?

Pengurus atau Penguras PGRI? Refleksi untuk Menjaga Marwah Organisasi Guru

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)


PGRI bukan sekadar organisasi profesi. Ia adalah rumah besar para guru Indonesia, tempat berhimpun, berjuang, dan saling menguatkan dalam menjalankan tugas mulia mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejak lahirnya, PGRI membawa semangat pengabdian, perjuangan, dan solidaritas. Namun seiring perjalanan waktu, muncul sebuah refleksi penting yang perlu direnungkan bersama: apakah kita hari ini benar-benar menjadi pengurus PGRI, atau justru tanpa sadar berubah menjadi penguras PGRI?


Istilah ini mungkin terdengar keras, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Refleksi ini bukan untuk menuding, melainkan untuk mengingatkan agar PGRI tetap berada di jalur pengabdian, bukan kepentingan.


Pengurus PGRI: Mengabdi, Melayani, dan Membersamai Guru


Pengurus PGRI sejati adalah mereka yang hadir dengan niat melayani. Jabatan dipahami sebagai amanah, bukan kehormatan. Mereka mengurus organisasi dengan hati, bukan dengan ambisi pribadi. Fokus utama pengurus adalah kepentingan anggota: guru-guru di ruang kelas, di pelosok negeri, yang setiap hari berjuang mendidik generasi penerus bangsa.


Pengurus PGRI bekerja dalam senyap. Mereka menyusun program yang berdampak nyata, bukan sekadar indah di laporan. Pelatihan guru, pendampingan karier, advokasi kebijakan pendidikan, serta perlindungan profesi dijalankan dengan sungguh-sungguh. Setiap iuran anggota dikelola secara transparan dan bertanggung jawab, karena mereka sadar uang itu berasal dari keringat guru.


Pengurus PGRI juga tidak anti kritik. Mereka memahami bahwa kritik adalah tanda kepedulian. Dengan membuka ruang dialog, pengurus menunjukkan kedewasaan organisasi dan keberanian untuk berbenah.


Penguras PGRI: Ketika Amanah Bergeser Menjadi Kepentingan


Sebaliknya, istilah penguras PGRI lahir dari kegelisahan banyak guru. Penguras PGRI adalah mereka yang menjadikan organisasi sebagai alat kepentingan pribadi atau kelompok. Jabatan dipakai untuk mencari nama, posisi, fasilitas, bahkan kekuasaan.


Ciri penguras PGRI terlihat dari kegiatan yang ramai seremoni tetapi minim substansi. Rapat demi rapat digelar, perjalanan dinas berulang dilakukan, namun guru di akar rumput tidak merasakan dampaknya. Aspirasi anggota jarang didengar, apalagi diperjuangkan.


Yang lebih memprihatinkan, penguras PGRI sering kali alergi terhadap kritik. Suara berbeda dianggap ancaman, bukan masukan. Padahal, organisasi yang menutup telinga terhadap kritik sedang menggali lubang kehilangannya sendiri: hilangnya kepercayaan anggota.


Garis Tipis antara Mengurus dan Menguras


Menjadi pengurus atau penguras sering kali hanya dipisahkan oleh niat dan integritas. Banyak yang memulai dengan niat baik, tetapi tergoda oleh jabatan. Banyak pula yang lupa bahwa PGRI adalah organisasi perjuangan, bukan organisasi kekuasaan.

Karena itu, refleksi ini penting bagi siapa pun yang berada dalam struktur PGRI. Jabatan boleh datang dan pergi, tetapi jejak pengabdian akan dikenang lebih lama daripada baliho dan spanduk.


Komentar Omjay: Guru Blogger Indonesia


Sebagai Guru Blogger Indonesia, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) menyampaikan pandangan yang jujur dan menyejukkan:

“PGRI akan kuat jika diurus oleh orang-orang yang mau melayani, bukan dilayani. Jabatan di PGRI bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan. Guru hari ini semakin kritis, dan mereka bisa membedakan mana pengurus yang bekerja, dan mana yang hanya sibuk pencitraan.”


Omjay juga menegaskan bahwa di era digital, keterbukaan adalah kunci:

“Media sosial dan blog bukan musuh organisasi. Justru di sanalah suara guru bisa terdengar. Menulis dan berbagi adalah cara kami mencintai PGRI agar tetap sehat dan dipercaya anggotanya.”
Menjaga Marwah PGRI di Era Digital


Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi, PGRI dituntut untuk adaptif dan transparan. Guru-guru yang melek digital ingin organisasi yang jujur, terbuka, dan responsif. Kepercayaan anggota tidak bisa dibangun dengan jargon, tetapi dengan kerja nyata.

PGRI tidak kekurangan orang hebat dan berpengalaman. Yang dibutuhkan adalah keteladanan dan keberanian untuk menjaga nilai-nilai dasar organisasi: kejujuran, pengabdian, dan keberpihakan pada guru.


Penutup: Saatnya Berkaca dan Berbenah


Pada akhirnya, PGRI akan selalu hidup dari hati orang-orang yang mengurusnya. Jika hari ini kita berada di dalamnya, mari bertanya dengan jujur pada diri sendiri: apakah kehadiran kita menguatkan atau justru membebani?

Mari rawat PGRI dengan cinta, integritas, dan kerendahan hati. Sebab PGRI bukan milik pengurus, melainkan milik seluruh guru Indonesia. Semoga kita tercatat sebagai pengurus PGRI yang mengabdi, bukan penguras PGRI yang pergi tanpa meninggalkan jejak kebaikan.

Berita Unggulan
Rating & Komentar
1 rating
5.0
Berdasarkan 1 rating
5
1
4
0
3
0
2
0
1
0

Berikan Rating
Tambah Komentar
Semua Komentar