Pengalaman Mengelola Website Sekolah
Umum 17 December 2025
Belajar Mengelola Konten Sekolah: Catatan Pengalaman Omjay Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Guru Blogger Indonesia) Di era digital seperti sekarang, sekolah bukan hanya tempat...
Berita Terkini
-
MODUL AJAR INFORMATIKA SMP KELAS VIII Kompetisi De...
22 Jan 2026 -
MODUL AJAR INFORMATIKA SMP KELAS VIII Tebak Kompon...
22 Jan 2026 -
MODUL AJAR INFORMATIKA SMP KELAS VIII Mendesain Ap...
22 Jan 2026 -
Etika Digital Untuk Siswa Kelas 8 SMP
21 Jan 2026 -
Guru Tak Bodoh, Hanya Takut: Kisah Modul Ajar Info...
15 Jan 2026
Pengalaman Mengelola Website Sekolah
Belajar Mengelola Konten Sekolah: Catatan Pengalaman Omjay
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
(Guru Blogger Indonesia)
Di era digital seperti sekarang, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga wajah yang tampil ke publik. Wajah itu bernama konten. Dari website sekolah, media sosial, hingga laporan kegiatan, semuanya berbicara tentang kualitas, budaya, dan ruh sebuah sekolah. Saya merasakan sendiri bagaimana mengelola konten sekolah bukan sekadar urusan teknis, melainkan kerja hati, konsistensi, dan kolaborasi.
Awal Mula: Sekolah yang “Ada”, tapi Tak Terlihat
Pengalaman saya mengelola konten sekolah bermula dari kegelisahan sederhana:
Sekolah berjalan aktif, prestasi banyak, kegiatan padat, tetapi publik nyaris tidak tahu.
Website sekolah sepi pembaruan. Media sosial hanya ramai saat penerimaan siswa baru. Padahal setiap hari guru mengajar dengan sepenuh hati, siswa berkarya, dan sekolah tumbuh dengan nilai-nilai baik. Di situlah saya sadar, kebaikan yang tidak diceritakan akan kalah oleh kebisingan yang pandai dipublikasikan.
Konten Sekolah Bukan Pencitraan, tapi Dokumentasi Kejujuran
Banyak yang salah paham, mengira konten sekolah adalah pencitraan. Bagi saya, itu keliru. Konten sekolah adalah dokumentasi kejujuran.
Saya selalu menekankan pada tim:
- Tulis apa adanya
- Ceritakan proses, bukan hanya hasil
- Angkat guru dan siswa sebagai subjek, bukan objek
Tulisan tentang guru yang sabar, siswa yang berproses, atau kelas yang sederhana justru lebih menyentuh daripada berita prestasi yang bombastis.
Guru Adalah Produsen Konten Terbaik
Pengalaman paling berharga adalah ketika saya melibatkan guru sebagai penulis konten sekolah. Awalnya banyak yang ragu:
- “Saya tidak bisa menulis”
- “Takut salah”
- “Tidak biasa”
Namun saya yakinkan, guru sejatinya sudah menulis setiap hari—di kelas, di papan tulis, dan di hati muridnya.
Pelan-pelan kami belajar:
- Menulis berita kegiatan sekolah
- Menulis refleksi pembelajaran
- Mengelola foto dan caption yang mendidik
Hasilnya luar biasa. Guru menjadi lebih percaya diri, sekolah hidup dengan cerita, dan siswa bangga melihat gurunya berkarya.
Media Sosial Sekolah Harus Mendidik
Dalam mengelola media sosial sekolah, saya berpegang pada prinsip sederhana:
Setiap unggahan harus mendidik, menginspirasi, atau menguatkan karakter.
Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua yang viral harus ditiru. Sekolah punya marwah. Konten sekolah harus mencerminkan nilai:
- Kesantunan
- Kejujuran
- Literasi
- Keteladanan
Like dan view penting, tapi nilai jauh lebih penting.
Tantangan Terberat: Konsistensi
Mengelola konten sekolah bukan pekerjaan sehari dua hari. Tantangan terberat adalah konsistensi. Bukan soal ide, tetapi komitmen.
Saya belajar bahwa:
- Konten kecil tapi rutin lebih baik daripada besar tapi jarang
- Apresiasi pada penulis konten sangat penting
- Kepala sekolah harus memberi contoh dan dukungan
Ketika pimpinan peduli, konten sekolah akan hidup.
Dampak Nyata yang Saya Rasakan
Dari pengalaman ini, dampaknya terasa nyata:
- Sekolah lebih dikenal publik secara positif
- Kepercayaan orang tua meningkat
- Guru dan siswa lebih bangga dengan sekolahnya
- Budaya literasi tumbuh secara alami
Bahkan, banyak sekolah lain mulai belajar dan bertanya, bukan karena sekolah kami paling hebat, tetapi karena ceritanya jujur dan manusiawi.
Penutup: Sekolah Harus Pandai Bercerita
Saya percaya, sekolah yang baik adalah sekolah yang pandai bercerita tentang kebaikan. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menginspirasi dan berbagi praktik baik.
Mengelola konten sekolah bukan tugas satu orang. Ia adalah kerja bersama, kerja budaya, dan kerja peradaban kecil yang dampaknya besar.
Mari kita rawat sekolah kita dengan cerita yang baik, tulisan yang jujur, dan konten yang mendidik. Karena apa yang kita tulis hari ini, akan menjadi jejak sejarah pendidikan esok hari.
Tips Singkat Mengelola Konten Sekolah ala Omjay
- Angkat Cerita Nyata
- Tulis kegiatan apa adanya, fokus pada proses, bukan hanya prestasi.
- Libatkan Guru dan Siswa
- Guru adalah penulis alami, siswa adalah sumber cerita terbaik.
- Konten Harus Mendidik
- Setiap unggahan membawa nilai karakter dan literasi.
- Rutin Lebih Penting dari Viral
- Konten sederhana tapi konsisten lebih berdampak.
- Gunakan Bahasa Manusiawi
- Hindari bahasa kaku dan birokratis, buat pembaca merasa dekat.
- Foto Mendukung Cerita
- Ambil foto yang jujur, tidak harus sempurna tapi bermakna.
- Apresiasi Kontributor
- Hargai guru atau siswa yang mau menulis dan berbagi.
- Jaga Marwah Sekolah
- Tidak semua tren cocok diikuti oleh akun sekolah.
- Dokumentasi = Investasi
- Konten hari ini adalah arsip sejarah sekolah di masa depan.
- Pimpinan Harus Terlibat
- Kepala sekolah memberi contoh agar budaya menulis tumbuh.