Pengalaman Mengelola Website Sekolah

Umum 17 December 2025

Belajar Mengelola Konten Sekolah: Catatan Pengalaman Omjay Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Guru Blogger Indonesia) Di era digital seperti sekarang, sekolah bukan hanya tempat...

Pengalaman Mengelola Website Sekolah
Umum 17 December 2025 11:01 wijaya kusumah 112 views

Pengalaman Mengelola Website Sekolah


Belajar Mengelola Konten Sekolah: Catatan Pengalaman Omjay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

(Guru Blogger Indonesia)


Di era digital seperti sekarang, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga wajah yang tampil ke publik. Wajah itu bernama konten. Dari website sekolah, media sosial, hingga laporan kegiatan, semuanya berbicara tentang kualitas, budaya, dan ruh sebuah sekolah. Saya merasakan sendiri bagaimana mengelola konten sekolah bukan sekadar urusan teknis, melainkan kerja hati, konsistensi, dan kolaborasi.


Awal Mula: Sekolah yang “Ada”, tapi Tak Terlihat


Pengalaman saya mengelola konten sekolah bermula dari kegelisahan sederhana:

Sekolah berjalan aktif, prestasi banyak, kegiatan padat, tetapi publik nyaris tidak tahu.

Website sekolah sepi pembaruan. Media sosial hanya ramai saat penerimaan siswa baru. Padahal setiap hari guru mengajar dengan sepenuh hati, siswa berkarya, dan sekolah tumbuh dengan nilai-nilai baik. Di situlah saya sadar, kebaikan yang tidak diceritakan akan kalah oleh kebisingan yang pandai dipublikasikan.


Konten Sekolah Bukan Pencitraan, tapi Dokumentasi Kejujuran

Banyak yang salah paham, mengira konten sekolah adalah pencitraan. Bagi saya, itu keliru. Konten sekolah adalah dokumentasi kejujuran.

Saya selalu menekankan pada tim:

  • Tulis apa adanya
  • Ceritakan proses, bukan hanya hasil
  • Angkat guru dan siswa sebagai subjek, bukan objek


Tulisan tentang guru yang sabar, siswa yang berproses, atau kelas yang sederhana justru lebih menyentuh daripada berita prestasi yang bombastis.

Guru Adalah Produsen Konten Terbaik

Pengalaman paling berharga adalah ketika saya melibatkan guru sebagai penulis konten sekolah. Awalnya banyak yang ragu:

  • “Saya tidak bisa menulis”
  • “Takut salah”
  • “Tidak biasa”

Namun saya yakinkan, guru sejatinya sudah menulis setiap hari—di kelas, di papan tulis, dan di hati muridnya.


Pelan-pelan kami belajar:

  • Menulis berita kegiatan sekolah
  • Menulis refleksi pembelajaran
  • Mengelola foto dan caption yang mendidik


Hasilnya luar biasa. Guru menjadi lebih percaya diri, sekolah hidup dengan cerita, dan siswa bangga melihat gurunya berkarya.


Media Sosial Sekolah Harus Mendidik


Dalam mengelola media sosial sekolah, saya berpegang pada prinsip sederhana:

Setiap unggahan harus mendidik, menginspirasi, atau menguatkan karakter.

Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua yang viral harus ditiru. Sekolah punya marwah. Konten sekolah harus mencerminkan nilai:

  • Kesantunan
  • Kejujuran
  • Literasi
  • Keteladanan

Like dan view penting, tapi nilai jauh lebih penting.


Tantangan Terberat: Konsistensi

Mengelola konten sekolah bukan pekerjaan sehari dua hari. Tantangan terberat adalah konsistensi. Bukan soal ide, tetapi komitmen.

Saya belajar bahwa:

  • Konten kecil tapi rutin lebih baik daripada besar tapi jarang
  • Apresiasi pada penulis konten sangat penting
  • Kepala sekolah harus memberi contoh dan dukungan

Ketika pimpinan peduli, konten sekolah akan hidup.


Dampak Nyata yang Saya Rasakan


Dari pengalaman ini, dampaknya terasa nyata:

  • Sekolah lebih dikenal publik secara positif
  • Kepercayaan orang tua meningkat
  • Guru dan siswa lebih bangga dengan sekolahnya
  • Budaya literasi tumbuh secara alami

Bahkan, banyak sekolah lain mulai belajar dan bertanya, bukan karena sekolah kami paling hebat, tetapi karena ceritanya jujur dan manusiawi.


Penutup: Sekolah Harus Pandai Bercerita


Saya percaya, sekolah yang baik adalah sekolah yang pandai bercerita tentang kebaikan. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menginspirasi dan berbagi praktik baik.

Mengelola konten sekolah bukan tugas satu orang. Ia adalah kerja bersama, kerja budaya, dan kerja peradaban kecil yang dampaknya besar.

Mari kita rawat sekolah kita dengan cerita yang baik, tulisan yang jujur, dan konten yang mendidik. Karena apa yang kita tulis hari ini, akan menjadi jejak sejarah pendidikan esok hari.


Tips Singkat Mengelola Konten Sekolah ala Omjay

  1. Angkat Cerita Nyata
  2. Tulis kegiatan apa adanya, fokus pada proses, bukan hanya prestasi.
  3. Libatkan Guru dan Siswa
  4. Guru adalah penulis alami, siswa adalah sumber cerita terbaik.
  5. Konten Harus Mendidik
  6. Setiap unggahan membawa nilai karakter dan literasi.
  7. Rutin Lebih Penting dari Viral
  8. Konten sederhana tapi konsisten lebih berdampak.
  9. Gunakan Bahasa Manusiawi
  10. Hindari bahasa kaku dan birokratis, buat pembaca merasa dekat.
  11. Foto Mendukung Cerita
  12. Ambil foto yang jujur, tidak harus sempurna tapi bermakna.
  13. Apresiasi Kontributor
  14. Hargai guru atau siswa yang mau menulis dan berbagi.
  15. Jaga Marwah Sekolah
  16. Tidak semua tren cocok diikuti oleh akun sekolah.
  17. Dokumentasi = Investasi
  18. Konten hari ini adalah arsip sejarah sekolah di masa depan.
  19. Pimpinan Harus Terlibat
  20. Kepala sekolah memberi contoh agar budaya menulis tumbuh.




Berita Unggulan
Rating & Komentar
0 rating
0.0
Berdasarkan 0 rating
5
0
4
0
3
0
2
0
1
0

Berikan Rating
Tambah Komentar
Semua Komentar
Belum ada komentar.