Pembelajaran Menarik dan Interaktif di Daerah Bencana Alam: Belajar dari Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara
Umum 08 December 2025
Pembelajaran Menarik dan Interaktif di Daerah Bencana Alam: Belajar dari Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara Oleh: Redaksi KOGTIK, dengan komentar Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (...
Berita Terkini
-
MODUL AJAR INFORMATIKA SMP KELAS VIII Kompetisi De...
22 Jan 2026 -
MODUL AJAR INFORMATIKA SMP KELAS VIII Tebak Kompon...
22 Jan 2026 -
MODUL AJAR INFORMATIKA SMP KELAS VIII Mendesain Ap...
22 Jan 2026 -
Etika Digital Untuk Siswa Kelas 8 SMP
21 Jan 2026 -
Guru Tak Bodoh, Hanya Takut: Kisah Modul Ajar Info...
15 Jan 2026
Pembelajaran Menarik dan Interaktif di Daerah Bencana Alam: Belajar dari Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara
Pembelajaran Menarik dan Interaktif di Daerah Bencana Alam:
Belajar dari Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara
Oleh: Redaksi KOGTIK, dengan komentar Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Indonesia adalah negeri yang diberkahi kekayaan alam, tetapi sekaligus dihantui risiko bencana. Dari sabang hingga merauke, dari gempa hingga banjir, dari erupsi hingga tanah longsor, tidak ada daerah yang benar-benar luput dari ancaman. Namun yang kerap terlupakan adalah satu hal: bencana tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga mengganggu pendidikan anak-anak.
Di sinilah peran guru diuji. Guru bukan sekadar pengajar, melainkan pelindung, penyembuh trauma, dan pencipta harapan. Mereka harus memastikan bahwa pembelajaran tetap berjalan, meski sekolah berubah menjadi puing dan kelas berubah menjadi tenda darurat.
Sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) — Ketua Komunitas Guru TIK (KOGTIK) dan Guru Blogger Indonesia:
“Di daerah bencana, guru adalah garda depan yang menjaga harapan anak-anak tetap hidup. Pembelajaran tidak boleh berhenti hanya karena ruang kelas hilang. Guru harus hadir, kreatif, dan tetap tersenyum demi memulihkan mental siswa.” — Omjay
Artikel ini mencoba merangkum berbagai praktik terbaik pembelajaran kreatif, menarik, dan interaktif di tiga daerah yang sering mengalami bencana: Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Tujuan kami sederhana: memberikan inspirasi bagi guru di seluruh Indonesia bahwa pembelajaran tetap bisa hidup, meski dalam keterbatasan.
I. ACEH: MEMULIHKAN TRAUMA MELALUI PEMBELAJARAN CERIA
Aceh telah mengalami bencana yang paling menyayat hati dalam sejarah Indonesia modern: tsunami 2004. Namun hingga kini, berbagai wilayah di Aceh masih sering dilanda gempa, banjir bandang, dan tanah longsor.
Ketika sekolah rusak dan anak-anak kehilangan tempat belajar, solusi paling cepat adalah membangun sekolah darurat — biasanya berupa tenda, posko kayu, atau bangunan semi permanen.
Namun di sinilah guru Aceh menunjukkan kreativitas luar biasa.
1. Pembelajaran Berbasis Permainan (Play-Based Learning)
Untuk memulihkan trauma anak-anak, guru memulai pembelajaran dengan:
- permainan tebak kata,
- nyanyian Aceh seperti Lon Sayang,
- permainan peran tentang kehidupan sehari-hari,
- kegiatan menggambar bebas.
Kegiatan ini mendorong anak tersenyum kembali, merasa aman, dan berani bercerita tentang pengalaman mereka.
Salah satu guru Aceh Besar mengatakan:
“Anak-anak baru mau belajar setelah hatinya tenang. Kami tidak langsung memberi materi, tapi mengajak mereka bermain dan tertawa.”
Menurut Omjay:
“Ini adalah inti pendidikan darurat. Anak harus aman dulu, senang dulu, baru dia bisa menerima pelajaran.” — Omjay
2. Media Belajar dari Barang Bekas
Keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk menghentikan kreativitas. Guru Aceh kerap menggunakan:
- kardus bantuan sebagai papan tulis kecil,
- botol plastik sebagai alat peraga sains,
- bambu bekas tenda untuk mengajar bangun ruang,
- kain bekas untuk membuat peta.
Dengan alat-alat sederhana ini, guru menciptakan pembelajaran yang konkret dan mudah dipahami.
3. Pendidikan Kebencanaan yang Kontekstual
Siswa diajak menggambar “Peta Bencana Buatan Tangan”, memetakan:
- lokasi rumah,
- jalur evakuasi,
- titik kumpul pengungsi,
- wilayah rawan.
Pembelajaran semacam ini sangat penting untuk membangun kesadaran siaga bencana sejak dini.
Omjay menilai praktik ini sangat efektif:
“Anak-anak Aceh belajar dari pengalaman nyata, bukan sekadar teori. Inilah pembelajaran abad 21 yang sesungguhnya: relevan, kontekstual, dan berbasis masalah.” — Omjay
II. SUMATERA BARAT: BUDAYA MINANG SEBAGAI TERAPI PEMBELAJARAN
Sumatera Barat, dengan kekayaan budaya Minangkabau yang kuat, menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi penopang utama pembelajaran di daerah bencana.
Semenjak gempa besar 2009 dan serangkaian banjir bandang di berbagai daerah, guru-guru Minang telah membuktikan bahwa kreativitas dapat tumbuh di tengah reruntuhan.
1. Storytelling Budaya sebagai Penguat Mental
Cerita rakyat seperti Malin Kundang, Sabai Nan Aluih, dan pepatah adat Minang menjadi alat terapi psikologis. Guru bercerita dengan penuh ekspresi, lalu mengajak siswa berdiskusi:
- Apa hikmahnya?
- Bagaimana nilai kesabaran dan ketabahan dalam cerita?
- Bagaimana tokoh bangkit dari kesulitan?
Dari sini, siswa belajar memahami bahwa cobaan bukan akhir segalanya.
Omjay menegaskan:
“Menggunakan cerita lokal adalah cara yang halus dan manusiawi untuk merawat hati anak-anak di daerah bencana. Budaya adalah obat.” — Omjay
2. Pembelajaran Tematik Melalui Kerajinan Lokal
Guru mengajak anak membuat miniatur Rumah Gadang dari:
- kardus,
- ranting pohon,
- plastik bekas,
- tanah liat.
Siswa tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang belajar matematika (bangun ruang), seni budaya, serta pendidikan karakter.
3. Pantun Minang dalam Pembelajaran Numerasi
Guru menciptakan pantun berisi pola angka. Contoh:
Lari anak ke bukit tinggi
Mencari buah dalam rimba
Jika lima tambah lagi tiga
Berapa jawab, siapa yang bisa?
Pantun membuat anak tertawa, tetapi pada saat yang sama belajar berhitung.
4. Pembelajaran Interaktif di Ruang Terbuka
Banyak sekolah rusak sehingga kelas dilaksanakan:
- di halaman masjid,
- di lapangan bola,
- di ruang pertemuan nagari.
Guru membawa papan tulis portabel dan menggunakan lingkungan sebagai media belajar: batu untuk menghitung, pohon sebagai referensi biologi, sungai sebagai studi ekosistem.
III. SUMATERA UTARA: SEKOLAH LAPANGAN DI TENGAH ABU VULKANIK
Sumatera Utara sering terdampak bencana:
- erupsi Gunung Sinabung yang berlangsung bertahun-tahun,
- banjir bandang di Langkat dan Deli Serdang,
- gempa di Nias dan Mandailing Natal.
Ketika sekolah tidak dapat digunakan, guru memulai pendekatan “school without walls” — sekolah tanpa dinding.
1. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
Anak-anak diajak belajar dari lingkungan sekitar:
- mengamati dampak abu vulkanik,
- mencatat suhu dan perubahan udara,
- menanam sayuran cepat panen,
- membuat jurnal harian,
- membuat poster mitigasi bencana.
Kegiatan ini membuat siswa aktif dan terlibat, bukan sekadar mendengar.
Omjay menilai metode ini sangat futuristik:
“Guru Sumatera Utara sudah menerapkan project-based learning jauh sebelum istilah itu populer. Ini bukti bahwa situasi sulit bisa melahirkan inovasi.” — Omjay
2. Musik Tradisional sebagai Self-Healing
Setiap pagi, siswa diajak bernyanyi gondang Batak atau lagu tradisional yang penuh semangat. Musik ini membantu:
- menenangkan pikiran,
- mengatasi trauma,
- meningkatkan mood belajar.
3. Kelas Keliling
Beberapa guru mengajar dari posko ke posko, membawa tas berisi:
- papan tulis mini,
- spidol,
- kartu huruf,
- modul sederhana.
Mereka pergi ke posko pengungsian yang jauh, bahkan yang membutuhkan waktu 1–2 jam perjalanan kaki.
Omjay memberikan apresiasi:
“Guru keliling di daerah bencana adalah pahlawan sesungguhnya. Mereka mengajar bukan karena diperintah, tetapi karena panggilan hati.” — Omjay
IV. PERAN GURU TIK DAN PENDIDIKAN DIGITAL DALAM SITUASI BENCANA
Sebagai situs resmi komunitas guru TIK, kogtik.com perlu menyoroti bahwa teknologi juga memiliki peran penting dalam pendidikan darurat.
1. Penggunaan Video Offline
Di banyak daerah bencana, listrik terbatas. Namun guru TIK menggunakan:
- tablet bertenaga baterai,
- laptop dengan solar charger,
- video pembelajaran offline,
- aplikasi tanpa internet.
Ini membantu materi visual tetap tersedia meski koneksi tak ada.
2. Radio Komunitas Pendidikan
Di Aceh dan Sumbar, guru sering menggunakan radio lokal untuk:
- mengajar membaca,
- menyimak cerita,
- memberikan tugas harian.
Radio menjadi media pembelajaran yang murah dan efektif.
3. Pembuatan Modul Digital Sederhana
Guru TIK membuat modul PDF yang bisa dibagikan melalui:
- Bluetooth antar ponsel,
- hotspot tanpa internet,
- memori card.
Sumber belajar menjadi lebih merata.
Omjay mengatakan:
“Guru TIK punya peran besar dalam memastikan pendidikan tetap hidup. Di daerah bencana, teknologi sederhana bisa menyelamatkan pembelajaran.” — Omjay
V. TANTANGAN YANG MASIH BESAR
Meski banyak inovasi, pendidikan di daerah bencana menghadapi kendala serius:
- keterbatasan alat tulis,
- trauma guru dan siswa,
- perpindahan pengungsian,
- hujan deras yang merusak tenda belajar,
- kurangnya dukungan psikolog.
Tanpa dukungan pemerintah dan masyarakat, pembelajaran sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
VI. REKOMENDASI KOGTIK UNTUK PEMBELAJARAN DI DAERAH BENCANA
- Sediakan tas darurat pendidikan: kartu huruf, buku kecil, spidol, modul.
- Latih guru dalam pendidikan psikososial.
- Gunakan game edukatif untuk mengurangi trauma.
- Manfaatkan teknologi offline secara maksimal.
- Libatkan budaya lokal dalam setiap pembelajaran.
- Sediakan pelatihan digital untuk guru pengungsian.
- Bangun jaringan guru relawan bencana di setiap provinsi.
VII. PENUTUP: GURU ADALAH SUMBER CAHAYA DI TEMPAT TERGELAP
Indonesia boleh mengalami banyak bencana, tetapi Indonesia juga memiliki guru-guru terbaik dunia — guru yang tetap datang mengajar meski rumahnya hancur, guru yang tersenyum meski hatinya ikut terluka.
Omjay menutup dengan pesan mendalam:
“Selama guru berdiri, pendidikan tidak akan pernah padam. Guru adalah cahaya bagi anak-anak, bahkan di tengah gelapnya bencana.” — Omjay
Semoga praktik baik dari Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara ini menjadi inspirasi bagi guru di seluruh Indonesia, termasuk komunitas guru TIK dan pegiat pendidikan digital. Mari terus berbagi, berkolaborasi, dan menghadirkan pembelajaran terbaik, apa pun situasinya. ***