Guru Tak Bodoh, Hanya Takut: Kisah Modul Ajar Informatika dan KKA

Umum 15 January 2026

Guru Tak Bodoh, Hanya Takut: Kisah Modul Ajar Informatika dan KKA Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd Di sebuah grup WhatsApp guru, sebuah pesan muncul dan langsung menarik perhatia...

Guru Tak Bodoh, Hanya Takut: Kisah Modul Ajar Informatika dan KKA
Umum 15 January 2026 11:20 wijaya kusumah 108 views

Guru Tak Bodoh, Hanya Takut: Kisah Modul Ajar Informatika dan KKA

Guru Tak Bodoh, Hanya Takut: Kisah Modul Ajar Informatika dan KKA

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd


Di sebuah grup WhatsApp guru, sebuah pesan muncul dan langsung menarik perhatian saya. Pesan itu singkat, jujur, dan terasa sangat manusiawi: “Pak, saya takut mengajar Informatika dan KKA. Takut salah.” Pesan serupa bukan sekali dua kali saya terima. Ia datang dari guru muda, guru senior, bahkan guru yang sudah puluhan tahun mengabdi.


Ketakutan itu nyata. Bukan karena guru tidak mampu, tetapi karena perubahan datang terlalu cepat, istilah terlalu banyak, dan beban administratif sering kali lebih menakutkan daripada tantangan mengajar itu sendiri.


Ketika Teknologi Terasa Mengintimidasi Guru


Informatika, Koding, dan Kecerdasan Artifisial (KKA) sering dipersepsikan sebagai wilayah eksklusif para ahli teknologi. Guru yang tidak berlatar belakang IT merasa minder, merasa tertinggal, bahkan merasa tidak layak. Padahal, jika kita jujur, sebagian besar guru sesungguhnya sudah lama menerapkan prinsip Informatika dalam kehidupan sehari-hari tanpa menyadarinya.


Menyusun langkah pembelajaran, membuat RPP, mengelola kelas, hingga memecahkan masalah siswa—semuanya adalah proses berpikir sistematis dan logis. Itu adalah inti dari Informatika.


Masalahnya bukan pada kemampuan guru, melainkan pada rasa takut yang dibiarkan tumbuh tanpa pendampingan.


Modul Ajar yang Berubah Menjadi Beban


Dalam Kurikulum Merdeka, modul ajar sejatinya hadir untuk memerdekakan guru. Namun di lapangan, modul ajar sering berubah menjadi dokumen administratif yang menguras energi. Guru sibuk mengejar format, tabel, dan istilah, tetapi lupa bahwa modul ajar adalah alat bantu, bukan tujuan akhir.


Modul ajar Informatika dan KKA tidak harus sempurna. Ia harus berfungsi. Ia harus membantu guru mengajar dengan lebih terarah dan membantu siswa belajar dengan lebih bermakna.


Jika modul hanya rapi di map, tetapi tidak hidup di kelas, maka ada yang perlu kita renungkan bersama.


Informatika Itu Tentang Cara Berpikir


Banyak guru mengira Informatika selalu identik dengan coding yang rumit. Padahal, fondasi Informatika adalah berpikir komputasional: bagaimana memecah masalah, menyusun langkah, dan menemukan solusi.


Mengajarkan algoritma tidak harus langsung di depan komputer. Guru bisa mengajak siswa mendiskusikan:

  • Urutan berangkat ke sekolah
  • Cara membuat minuman sederhana
  • Langkah mencuci tangan dengan benar


Dari aktivitas sederhana itu, siswa belajar logika, urutan, dan sebab-akibat. Itulah Informatika yang sesungguhnya: membumi dan dekat dengan kehidupan.


KKA: Bukan untuk Membuat Guru Minder


Koding dan Kecerdasan Artifisial sering kali terdengar menakutkan karena dibungkus dengan istilah teknis. Padahal, esensi KKA adalah mencoba, gagal, dan belajar lagi. Sama seperti proses belajar lainnya.


Guru tidak dituntut menjadi ahli AI. Guru hanya diminta menjadi fasilitator yang mau belajar bersama siswa. Menggunakan Scratch, mengenal AI melalui gambar, atau mencoba simulasi sederhana sudah lebih dari cukup untuk tahap awal.


Yang paling penting adalah keberanian untuk memulai, bukan kesempurnaan di awal.


Modul KKA yang Sederhana Justru Efektif


Modul ajar KKA tidak perlu tebal dan rumit. Struktur sederhana sering kali justru lebih efektif:

  1. Tujuan pembelajaran yang jelas
  2. Materi singkat dan kontekstual
  3. Langkah praktik yang mudah diikuti
  4. Proyek kecil yang menyenangkan
  5. Refleksi untuk siswa

Jika siswa pulang ke rumah dengan cerita antusias, itu tanda modul telah bekerja dengan baik.


Asesmen yang Mendidik, Bukan Menghakimi


Dalam Informatika dan KKA, proses jauh lebih penting daripada hasil. Anak yang hari ini belum berhasil bukan berarti gagal. Bisa jadi ia hanya butuh waktu dan bimbingan.


Asesmen seharusnya menjadi alat untuk memahami perkembangan siswa, bukan untuk menakut-nakuti. Guru perlu memberi ruang aman bagi siswa untuk mencoba dan salah.


Bukankah pendidikan sejatinya adalah tentang tumbuh, bukan tentang takut?


Guru Tidak Boleh Kalah oleh Ketakutan


Perubahan tidak bisa dihindari. Teknologi akan terus berkembang, kebijakan akan terus berganti. Namun satu hal tidak boleh berubah: semangat guru untuk belajar dan mendidik dengan hati.


uru tidak bodoh. Guru hanya manusia yang kadang lelah dan takut. Dan itu wajar. Yang tidak wajar adalah ketika ketakutan itu dibiarkan menghambat langkah.


Guru yang berani belajar, meski pelan, sesungguhnya sedang memberi teladan paling berharga bagi siswanya.


Penutup: Modul Ajar dengan Hati


Modul ajar Informatika dan KKA yang paling kuat bukan yang dibuat dengan teknologi tercanggih, tetapi yang lahir dari kepedulian guru terhadap masa depan muridnya. Ketika modul ditulis dengan hati, dijalankan dengan kesabaran, dan disertai niat baik, maka teknologi akan menjadi sahabat, bukan ancaman.

Karena pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi, guru tetaplah kunci utama pendidikan.


Pada akhirnya, Informatika dan KKA bukanlah ujian untuk mengukur siapa guru yang paling pintar, melainkan ruang belajar untuk melihat siapa guru yang paling berani. Berani mencoba, berani salah, dan berani tetap mendidik dengan hati. Sebab teknologi boleh terus berubah, tetapi peran guru yang memanusiakan manusia akan selalu abadi.


1768450818_69686b021ba21.jpg

Berita Unggulan
Rating & Komentar
0 rating
0.0
Berdasarkan 0 rating
5
0
4
0
3
0
2
0
1
0

Berikan Rating
Tambah Komentar
Semua Komentar
Belum ada komentar.