Dari Viral ke Bernilai: Mengajarkan Literasi Digital dan Algoritma Media Sosial di Kelas Informatika

Umum 09 January 2026

Dari Viral ke Bernilai: Mengajarkan Literasi Digital dan Algoritma Media Sosial di Kelas Informatika Di era digital, pertanyaan tentang “mengapa sebuah konten bisa viral” tidak...

Dari Viral ke Bernilai: Mengajarkan Literasi Digital dan Algoritma Media Sosial di Kelas Informatika
Umum 09 January 2026 07:13 wijaya kusumah 80 views

Dari Viral ke Bernilai: Mengajarkan Literasi Digital dan Algoritma Media Sosial di Kelas Informatika

Dari Viral ke Bernilai: Mengajarkan Literasi Digital dan Algoritma Media Sosial di Kelas Informatika


Di era digital, pertanyaan tentang “mengapa sebuah konten bisa viral” tidak lagi sekadar urusan kreator media sosial. Bagi guru Informatika, pertanyaan ini justru menjadi pintu masuk yang sangat strategis untuk mengajarkan literasi digital, berpikir komputasional, hingga etika bermedia kepada siswa.

Suatu hari, Omjay merenung ketika melihat salah satu tulisannya ramai dibaca di media sosial. Tanpa niat mengejar popularitas, tulisan tersebut menyebar luas karena menyentuh persoalan publik. Dari pengalaman itu, Omjay menyadari bahwa fenomena viral dapat dijelaskan secara ilmiah dan edukatif, sehingga sangat layak dijadikan materi pembelajaran Informatika di sekolah.


Viral sebagai Fenomena Informatika Sosial


Dalam Informatika, viralitas dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara algoritma, data, dan perilaku manusia. Media sosial bekerja dengan sistem rekomendasi berbasis algoritma yang mempelajari pola interaksi pengguna: like, komentar, durasi membaca, dan berbagi.

Guru Informatika dapat menjelaskan kepada siswa bahwa algoritma tidak “cerdas” secara emosional, tetapi bekerja berdasarkan data. Namun, data itu berasal dari manusia. Artinya, viral bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal psikologi dan nilai sosial.

Konsep ini sejalan dengan Informatika Sosial, cabang Informatika yang mempelajari dampak timbal balik antara teknologi dan masyarakat.


Teori Algoritma Rekomendasi (Recommendation System)


Guru dapat memperkenalkan teori dasar sistem rekomendasi, yaitu:

  1. Content-Based Filtering
  2. Sistem merekomendasikan konten berdasarkan kesamaan topik dengan yang pernah disukai pengguna.
  3. Collaborative Filtering
  4. Konten direkomendasikan karena disukai oleh pengguna lain dengan minat serupa.
  5. Engagement-Based Ranking
  6. Konten dengan interaksi tinggi (like, komentar, share) akan didorong lebih luas oleh algoritma.


Dalam konteks tulisan atau konten edukatif, siswa perlu memahami bahwa judul menarik dan isi relevan meningkatkan engagement, sehingga algoritma “menganggap” konten tersebut layak disebarkan.


Berpikir Komputasional dalam Menulis


Menulis di era digital dapat diajarkan sebagai bagian dari berpikir komputasional, dengan tahapan:

  • Decomposition: Memecah ide besar menjadi subtopik sederhana
  • Pattern Recognition: Mengenali pola isu yang sedang ramai
  • Abstraction: Menentukan pesan utama tulisan
  • Algorithmic Thinking: Menyusun alur tulisan agar logis dan mudah dipahami

Guru Informatika dapat mengaitkan proses ini dengan pembuatan algoritma sederhana, sehingga siswa memahami bahwa menulis pun memiliki “logika program”.


Literasi Digital dan Etika Bermedia


Fenomena viral juga menjadi momentum penting untuk mengajarkan etika digital. Tidak semua yang viral itu baik, dan tidak semua yang menarik layak dibagikan. Jarimu adalah harimau kamu. Tahan jarimu untuk tidak menyebarkannya di media sosialmu.


Teori Digital Citizenship dapat diajarkan, meliputi:

  • Tanggung jawab digital
  • Empati digital
  • Keamanan dan privasi
  • Dampak sosial konten


Siswa perlu diajak berpikir kritis:

Apakah konten ini bermanfaat?

Apakah berpotensi menyakiti pihak lain?

Apakah informasinya benar?

Inilah nilai penting yang harus ditanamkan oleh guru Informatika agar siswa tidak sekadar menjadi konsumen algoritma, tetapi warga digital yang cerdas.


Praktik Pembelajaran di Kelas Informatika


Guru dapat menerapkan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) dengan contoh aktivitas:

Proyek: Analisis Konten Viral Edukatif

  1. Siswa memilih satu konten viral bertema pendidikan
  2. Menganalisis faktor viralitasnya (judul, waktu unggah, emosi)
  3. Mengaitkan dengan cara kerja algoritma
  4. Menyimpulkan nilai edukatif dan dampak sosialnya

Proyek ini melatih keterampilan analisis data sederhana, berpikir kritis, dan komunikasi.


Menulis sebagai Keterampilan Abad 21


Dalam konteks Informatika modern, menulis bukan hanya tugas bahasa Indonesia. Menulis adalah keterampilan abad 21 yang berkaitan dengan:

  • Komunikasi digital
  • Penyampaian data dan informasi
  • Personal branding positif
  • Kolaborasi daring


Guru Informatika memiliki peran strategis untuk mengajarkan bahwa teknologi seharusnya memperkuat pesan positif, bukan sekadar mengejar popularitas.


Peran Guru Informatika sebagai Penjaga Nilai


Guru Informatika bukan hanya pengajar coding atau aplikasi, tetapi penjaga nilai dalam penggunaan teknologi. Mengajarkan siswa memahami algoritma tanpa nilai hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara teknis tetapi miskin empati.

Ketika siswa memahami mengapa sebuah tulisan bisa viral, mereka juga harus memahami tanggung jawab di baliknya.


Dari Viral ke Bernilai


Pengalaman Omjay menunjukkan bahwa tulisan yang viral sering kali lahir dari kejujuran dan kepedulian sosial. Dalam konteks pendidikan Informatika, viralitas dapat dijadikan pintu masuk untuk pembelajaran mendalam yang bermakna.


Guru Informatika perlu menggeser fokus: bukan mengajarkan cara “menjadi viral”, tetapi bagaimana menghasilkan konten yang bernilai, bertanggung jawab, dan berdampak positif.


Dengan pendekatan ini, kelas Informatika tidak hanya melahirkan siswa yang paham teknologi, tetapi juga generasi yang mampu menggunakan teknologi untuk kebaikan bersama.


Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat—nilai manusialah yang menentukan arahnya.


Pada akhirnya, tugas guru Informatika bukan mengajarkan cara menaklukkan algoritma, melainkan menuntun siswa agar tetap menjadi manusia utuh di tengah kecanggihan teknologi—cerdas berpikir, bijak bertindak, dan berani menggunakan digitalisasi untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.


Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com


Berita Unggulan
Rating & Komentar
0 rating
0.0
Berdasarkan 0 rating
5
0
4
0
3
0
2
0
1
0

Berikan Rating
Tambah Komentar
Semua Komentar
Belum ada komentar.